Ketua Umum dan Sekjen IAPA Bahas Reformasi Anggaran Pendidikan dan Peran AI Bersama Akademisi Dunia di Beijing

Ditulis Oleh: Oscar Radyan Danar, Ph.D.

Beijing, 9 Oktober 2026 โ€” Ketua Umum Indonesian Association for Public Administration (IAPA), Prof. Dr. M. R. Khairul Muluk, M.Si., bersama Sekretaris Jenderal IAPA, Oscar Radyan Danar, Ph.D., menghadiri undangan Education Finance and Performance Budgeting Workshop yang diselenggarakan di Central University of Finance and Economics (CUFE), Beijing, China, pada Jumat (9/10/2026).

Forum akademik internasional tersebut diselenggarakan oleh School of Government, CUFE, bekerja sama dengan Institute of Global Governance and Innovation for a Shared Future, City University of Hong Kong.

Kegiatan ini mempertemukan akademisi dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas reformasi penganggaran berbasis kinerja, evaluasi pendidikan tinggi, keberlanjutan pembiayaan universitas, serta perubahan peran perguruan tinggi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dihadiri Akademisi Internasional dan Pimpinan Institusi China

Forum tersebut menghadirkan sejumlah akademisi internasional, antara lain Prof. Edoardo Ongaro dari The Open University, Inggris; Prof. Gabriel Purรณn-Cid dari Centro de Investigaciรณn y Docencia Econรณmicas (CIDE), Meksiko; serta Prof. Mariafrancesca Sicilia dari University of Bergamo, Italia.

Dari City University of Hong Kong hadir Prof. Alfred Tat-Kei Ho, Dekan College of Liberal Arts and Social Sciences sekaligus Direktur Institute of Global Governance and Innovation for a Shared Future, bersama Dr. Zhiguo Wang.

Dari pihak China, kegiatan ini melibatkan Prof. Ma Haitao, Presiden Central University of Finance and Economics; Prof. Jiang Ling, Dekan School of Government CUFE; serta Prof. Shi Qingjun dari CUFE.

Peserta lainnya mencakup Prof. Ma Guoxian dari Shanghai University of Finance and Economics, Wang Yanfang dari Budget Evaluation Center, Ministry of Finance of the People’s Republic of China, serta sejumlah akademisi dan perwakilan institusi lainnya.

Kehadiran para peserta tersebut memperkaya diskusi komparatif mengenai hubungan antara pembiayaan publik, pengukuran kinerja, dan kualitas tata kelola pendidikan tinggi di berbagai negara.

Prof. Khairul Muluk: Anggaran Pendidikan Harus Menghasilkan Dampak Nyata

Dalam paparan berjudul Current State and Prospects of Educational Budget Performance in Indonesia: From Budget Allocation to Educational Outcomes, Prof. Khairul Muluk mengulas perkembangan anggaran pendidikan Indonesia serta tantangan dalam menghubungkan peningkatan belanja publik dengan perbaikan kualitas pendidikan.

Ia menekankan pentingnya menggeser perhatian dari sekadar pemenuhan alokasi anggaran menuju efektivitas penggunaan sumber daya dan hasil pendidikan yang terukur.

Paparan tersebut mengangkat persoalan kesenjangan capaian pembelajaran, ketimpangan akses pendidikan tinggi, serta fragmentasi pengelolaan anggaran pendidikan yang melibatkan berbagai kementerian dan tingkat pemerintahan.

Prof. Muluk juga membahas pentingnya transparansi klasifikasi anggaran pendidikan, termasuk dalam konteks pembiayaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut kerangka analisis yang dipaparkan, investasi gizi dapat mendukung kesiapan belajar, tetapi pencatatan dan evaluasinya perlu dibedakan secara transparan dari belanja inti pendidikan seperti penguatan guru, pembelajaran, dan infrastruktur pendidikan.

Pembahasan ini menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan pendidikan harus dinilai bukan hanya dari besarnya anggaran, tetapi juga dari kualitas pembelajaran, pemerataan kesempatan, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Oscar Radyan Danar: Perguruan Tinggi Harus Mendefinisikan Ulang Kinerja di Era AI

Sementara itu, Oscar Radyan Danar menyampaikan paparan bertajuk Financing Public Value: Rethinking University Performance in the Age of AI.

Dalam paparannya, Oscar mengajak peserta untuk meninjau kembali bagaimana perguruan tinggi dibiayai, bagaimana kinerjanya diukur, dan bagaimana kontribusinya terhadap masyarakat harus didefinisikan di tengah perkembangan AI.

Ia menjelaskan bahwa sistem pembiayaan perguruan tinggi perlu menjaga keseimbangan antara keberlanjutan keuangan, pemerataan akses, dan kualitas akademik. Namun, tantangan perguruan tinggi saat ini tidak berhenti pada persoalan pembiayaan.

Perkembangan AI telah mengubah cara informasi diproduksi, dianalisis, dan digunakan dalam pembelajaran maupun penelitian. Karena itu, nilai perguruan tinggi tidak lagi cukup diukur melalui banyaknya informasi yang dihasilkan atau aktivitas akademik yang dilaksanakan.

Perguruan tinggi perlu semakin menekankan kemampuan berpikir kritis, penilaian etis, kualitas penelitian orisinal, pengembangan kapasitas manusia, serta kontribusi nyata terhadap masyarakat.

Oscar juga menyoroti pentingnya transformasi sistem pengukuran kinerja perguruan tinggi. Indikator seperti jumlah publikasi, jam mengajar, angka kelulusan, dan kegiatan kerja sama perlu dihubungkan dengan kualitas penelitian, hasil pembelajaran, perkembangan lulusan, dan dampak sosial.

Dengan demikian, penganggaran berbasis kinerja perlu bergerak dari orientasi administratif menuju penguatan public value atau nilai publik.

Dalam kesempatan tersebut, Oscar turut memperkenalkan konsep Institutional Intelligence Infrastructure, sebuah inisiatif pengembangan infrastruktur kecerdasan kelembagaan berbasis AI.

Konsep ini diarahkan untuk mengintegrasikan informasi keuangan, pembelajaran, penelitian, dan dampak sosial dengan analisis berbantuan AI sehingga institusi memiliki dukungan yang lebih baik dalam menentukan kebijakan, strategi, dan alokasi sumber daya.

Melalui pendekatan tersebut, pemanfaatan AI tidak berhenti pada otomatisasi laporan atau peningkatan efisiensi administratif, tetapi diarahkan untuk memperkuat kapasitas institusi dalam memahami persoalan, mempertimbangkan alternatif, dan menghasilkan keputusan yang lebih berkualitas serta akuntabel.

Perspektif ini menegaskan bahwa transformasi AI dalam pendidikan tinggi pada dasarnya juga merupakan agenda transformasi kelembagaan dan tata kelola.

Memperkuat Jejaring Internasional Administrasi Publik Indonesia

Workshop di CUFE berlangsung melalui tiga rangkaian diskusi utama, yaitu Performance Budgeting and University Education Evaluation, Alternative Thinking of Performance Budgeting in Education, serta Education Finance and Sustained Performance by Universities in the Era of AI.

Ketiga tema tersebut mempertemukan perspektif berbagai negara mengenai tantangan pengukuran kinerja, keterbatasan pemeringkatan universitas, keberlanjutan pembiayaan pendidikan, dan kebutuhan merumuskan kembali nilai pendidikan tinggi di tengah perkembangan teknologi.

Bagi IAPA, keikutsertaan Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal dalam forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kontribusi akademisi administrasi publik Indonesia dalam diskursus internasional.

Kedua paparan menghadirkan perspektif yang saling melengkapi. Prof. Khairul Muluk menyoroti efektivitas anggaran pendidikan dan tantangan tata kelola kebijakan pada tingkat nasional, sedangkan Oscar Radyan Danar menekankan transformasi kinerja perguruan tinggi dan pemanfaatan AI untuk memperkuat kapasitas kelembagaan.

Partisipasi ini sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan jejaring akademik lintas negara dalam bidang administrasi publik, penganggaran berbasis kinerja, evaluasi kebijakan, dan tata kelola berbasis AI.

Reformasi pembiayaan pendidikan pada akhirnya bukan semata persoalan berapa besar anggaran yang dialokasikan, tetapi bagaimana sumber daya publik dikelola secara cerdas, akuntabel, dan mampu menghasilkan nilai nyata bagi masyarakat.


Kunjungi Media Sosial Resmi IAPA:
Instagram Official IAPA (@iapaofficial)